![]() |
| Perkebunan Teh Kaioe Aro |
Sedangkan yang dimaksud dengan teh adalah minuman yang mengandung kafein yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Tanamannya sendiri yaitu Camellia sinensis merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di daerah tropis hingga subtropis dengan ketinggian antara 200-2000 m di atas permukaan laut. Suhu yang memungkinkan tumbuhnya tanaman teh ini adalah sekitar 14-25º C, namun suhu yang sedikit lebih rendah atau sedikit lebih tinggi masih memungkinkan tumbuhnya tanaman teh ini. Ketinggian tanaman teh ini rata-rata 9 meter, namun pada tanaman teh jenis tertentu, misalnya teh jenis Assamica dapat tumbuh hingga 12-20 meter. Hingga saat ini terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara di dunia. Tanaman teh selalu dijaga ketinggiannya agar tidak lebih dari 1 meter, supaya mempermudah pemetikan teh itu sendiri.
Taksonomi atau klasifikasi ilmiah Camellia sinensis, yaitu:
- Kerajaan : Plantae
- Divisi : Magnoliophyta
- Kelas : Magnoliopsida
- Ordo : Ericales
- Famili : Theaceae
- Genus : Camellia
- Spesies : Camellia sinensis
Pekebunan teh Kajoe Aro (baca: Kayu Aro) merupakan perkebunan yang diusahakan oleh Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI) Jambi-Sumatera Barat yang memproduksi Teh Kajoe Aro yang sangat terkenal di dunia. Perkebunan teh ini berada pada satu hamparan lahan, yakni terletak di sekitar Gunung Kerinci. Luas perkebunan teh ini adalah 2624,29 hektar (26,2429 km²), artinya perkebunan teh Kajoe Aro adalah perkebunan teh terluas di dunia yang terletak dalam satu hamparan. Perkebunan teh ini berada pada ketinggian 1400-1700 meter di atas permukaan laut, sehingga menjadikannya sebagai perkebunan teh tertinggi kedua di dunia setelah perkebunan teh Darjeeling di kaki Pegunungan Himalaya (2100 meter di atas permukaan laut).
Perkebunan teh Kajoe Aro terletak di utara Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Perkebunan ini mencakup 29 desa. Perkebunan teh ini berjarak sekitar 22 km dari Bukit Tengah - Siulak, ibukota Kabupaten Kerinci yang baru, atau 32 km dari Kota Sungai Penuh, ibukota Kabupaten Kerinci sebelum wilayah Kabupaten Kerinci dimekarkan menjadi 2, yaitu Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh pada tanggal 8 November 2009 berdasarkan Undang Undang No. 25 Tahun 2008. Dari Kota Jambi, ibukota provinsi, perkebunan teh ini berjarak 451 km dengan waktu tempuh paling cepat 13-14 jam.
Perkebunan teh Kajoe Aro dirintis pada tahun 1925 hingga 1928 oleh perusahaan Belanda yang bernama Namblodse Venotschaap Holland Vereniging Amsterdam (NV HVA), mulai beroperasi pada tahun 1930 dengan tenaga kerja rodi yang didatangkan dari Pulau Jawa. Hingga kini, para pekerja pemetik daun teh dari Jawa tersebut telah memasuki generasi kelima. Perkebunan teh Kajoe Aro tercatat sebagai perkebunan teh tertua di Indonesia.
Untuk menuju perkebunan teh Kajoe Aro, tidak terdapat angkutan yang secara khusus mengantar pengunjung ke sana, bahkan angkutan umumpun sangat jarang yang menuju perkebunan teh tersebut. Secara umum, di Kerinci dan Sungai Penuh terdapat 3 trayek angkutan umum yang aktif melayani mobilisasi penumpang, yaitu: Sungai Penuh-Semurup, Sungai Penuh-Siulak dan Sungai Penuh Kayu Aro. Trayek terakhir inilah yang dapat membantu mengantar penumpang menuju Kayu Aro, dengan biaya sekitar Rp15.000,- hingga Rp20.000,-. Jika kita berangkat dari Kota Jambi, kita dapat memanfaatkan transportasi umum berupa minibus travel yang dapat mengantar sampai ke tujuan, dengan biaya perjalanan pada umumnya sebesar Rp100.000,-. Travel tersebut melakukan perjalanan Kota Sungai Penuh-Kota Jambi PP sebanyak 2 kali dalam sehari, yaitu pada waktu pagi dan malam hari, dengan waktu tempuh paling cepat 10 jam. Terlepas dari transportasi umum itu, transportasi jarak dekat yang dapat diandalkan dan sangat direkomendasikan adalah kendaraan pribadi, baik mobil atau motor. Adapun keuntungan menggunakan kendaraan pribadi ini antara lain, pengunjung dapat menikmati pemandangan di sebelah kiri dan sebelah kanan jalan yang sangat indah sambil menghirup segarnya udara sejuk dataran tinggi. Pengunjung juga tidak perlu direpotkan dengan jalan yang bercabang, karena untuk menuju perkebunan teh Kajoe Aro, pengunjung dapat melewati jalan utama beraspal yang sangat sedikit memiliki persimpangan jalan. Namun, pengunjung diharap berhati-hati melewati jalan menuju perkebunan teh, karena kondisi sebagian besar jalan yang berlubang serta sempit dan ketika melewati wilayah perbukitan, jalan yang dilewati relatif berkelok-kelok, memiliki tanjakan dan turunan yang relatif curam, dan tidak semua tepi badan jalan memiliki palang pengaman, sedangkan di tepi badan jalan tersebut merupakan tebing dan jurang. Akan sangat berbahaya terlebih ketika hujan dan kabut tebal.
Hingga kini, Kerinci dapat diakses dari 3 lokasi, yaitu dari Tapan (Kab. Pesisir Selatan - Sumatera Barat), Muara Labuh (Kab. Solok Selatan - Sumatera Barat), dan Bangko (Kab. Merangin - Jambi).
Selain transportasi darat, Kerinci memiliki fasilitas transportasi udara, yaitu Bandar Udara Depati Parbo yang kembali dibuka, setelah 3 tahun tidak beroperasi. Bandara ini terletak di Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, 10 menit dari Kota Sungai Penuh dan 35 menit dari Bukit Tengah, ibukota Kabupaten Kerinci. Terdapat satu maskapai penerbangan yang melayani Kota Jambi-Kerinci yakni Riau Airlines dengan frekuensi penerbangan 2 hingga 3 kali seminggu. Waktu tempuhnya sangat singkat dibandingkan jalur darat yakni 1 jam.
Di wilayah perkebunan teh ini terdapat Aroma Pecco, wisma dan taman, dimana di Aroma Pecco ini sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara sebagai tempat perkemahan, tempat rekreasi serta tempat relaksasi bagi pengunjung sambil menikmati hangatnya teh Kajoe Aro di tempat yang dingin ini. Aroma Pecco yang memiliki kolam ini terletak di Desa Bedeng VIII, Kecamatan Kayu Aro, berjarak 50 meter dari jalan utama. Kolam tersebut dahulunya merupakan tempat penampungan air bagi perkebunan teh. Dari sini pengunjung juga dapat menikmati keperkasaan Gunung Kerinci yang menjulang tinggi.
Teh produksi PTPN VI ini menghasilkan produk teh yang sangat terkenal di luar negeri, khususnya Eropa. Di Belanda, keluarga kerajaan Belanda menjadi pelanggan setia teh Kajoe Aro sejak zaman Ratu Wilhelmina. Hal yang serupa juga terjadi di kerajaan Inggris, dimana Ratu Elizabeth juga menjadi penikmat teh Kajoe Aro ini. Selain Belanda dan Inggris, negara lain seperti Jerman, Belgia, Portugal, Spanyol, Italia, Jepang, China, India, Sri Lanka, Australia, dan lain-lain juga merupakan konsumen dari produk ini.
Produksi teh dari perkebunan teh Kajoe Aro mencapai 5.500 ton pertahun dalam bentuk serbuk teh hitam ortodok. Sedangkan produksi daun teh basah perharinya mencapai 90 ton. Produk teh kualitas nomor 1 dan 2 diekspor ke luar negeri, sedangkan produk teh kualitas nomor 3 dan seterusnya dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karena itulah, teh Kajoe Aro tidak terlalu terkenal dalam pasaran di dalam negeri, sehingga sulit ditemukan di swalayan atau toko-toko.






